Review Awam Nitecore MT-06

BEWARE OF BWK! YOU'VE BEEN WARNED!




*tiup-tiup debu di blog


Hola! Udah lama ga nulis lagi di blog, saya merasa gagal.


Jadi gini, dalam rangka melengkapi set up EDC, maka Gue membeli sebuah senter.


“Ngapain beli senter sik, kayak bakal kepake aja”


“Udah ada flash HP ngapain beli senter”


A-aku bisa jelasin, gini, pertama, dalam 1 hari kemungkinan kita bertemu dengan dunia kegelapan alias malam hari itu 100%, dibanding kemungkinan bertemu hujan dalam 1 hari yang cuma 50% (secara awam) atau persentase lainnya jika menggunakan prakiraan cuaca. Jadi jelas kita lebih butuh senter dibanding payung.



Kedua, lampu flash hp juga bisa jadi senter, cuma, sama halnya seperti pengguna jam tangan yang bisa lihat di hp, atau pengguna kalkulator scientific yang bisa pake aplikasi di smartphone, We, EDC enthusiast, need the real things to do the job.


*berlaku untuk item EDC yang sudah memiliki alat pengganti, tidak berlaku untuk item EDC yang menjadi fungsi pengganti.


Lanjut, Gue termasuk pemula dalam hal EDC ini, itemnya pun masih standar, dan Gue awam soal senter, jadi ya, cari yang murah dan awet, tapi gak mau senter Police yang tidak jelas juntrungannya itu. Awalnya pilihan senter Gue ThruniteTi 3, udah berbulan-bulan mantap dengan pilihan itu. Dan di Indonesia Gue cuma nemu 2 penjual, 1 di Pulau Sumatra, 1 di BSD, deket rumah. Dengan harga Rp 300.000 kurang dikit, Gue mencoba cari alternatif lain. Karena pacar Gue protes harganya.


Pilihan Gue jatuh di Nitecore MT-06, ditebus seharga Rp 230.000, garansi internasional 5 tahun, daripada senter Police ga jelas. Jadi mulai saja dibahas yuk.


165 lumens and 92 m beam distance, better than Ti3 with only 120 lumens and 50 m beam distance.
Shockproof 1.5 m, waterproof, and submersible, you can't compare it with cheap shit Police flashlight. 

Uh-oh, 5 years international warranty bruh, enough with that cheap shit Police flashlight.


Here's the flashlight.



I know nothing about LED in flashlight.


And here's the spec and features based on Nitecore's website.






Nah, sekarang review dan alasan kenapa Gue lebih memilih Nitecore MT-06 dibanding ThruniteTi 3, selain lebih murah dan spesifikasinya.

Kesan pertama waktu pegang senter ini, bahannya kokoh banget dan tekstur body senter ini doff agak licin gitu. Tombol on-off senter ini juga kokoh dan mudah dipencet, klip penjepit sangat sangat kokoh. Diameter dan panjang yang pas bikin enak berbagai cara menggenggamnya, entah cara genggam biasa atau cara genggam kayak polisi di film-film.

Dalam dunia senter, ada istilah tail-stand, yaitu senter bisa berdiri terbalik pada bidang datar. Gunanya apa? Supaya kita ga pegel pegangin senter sebagai penerangan darurat. Dan untuk bisa tail-stand, bentuk bagian belakang senter harus mendukung, seperti di bawah ini.





Harus Gue akuin, memposisikan senter ini berdiri terbalik ga terlalu gampang, karena tombol senter di bagian belakang, meskipun rata, semacam ada sensasi senter agak tertekan. Beda dengan Ti3 yang kokoh dan rata pada bagian belakang seperti kebanyakan senter lainnya. Tapi hal ini ga terlalu masalah sih, toh bakal jarang juga senter ini Gue tail-stand.



Pada bagian ini Ti3 menang.

Ketika kita menggunakan senter dalam waktu yang lama, bagian sekitar lampunya/LED akan terasa hangat menuju panas, pun dengan senter ini. Beruntung dengan ukuran yang pas di genggaman tangan, Gue ga merasakan hal tersebut kecuali jika memegang area sekitar lampu/LED-nya.

Bagian biru adalah area kita menggenggam senter, bagian merah adalah area yang terasa hangat saat digunakan dalam waktu lama.


Berbeda dengan Ti3 yang panjangnya hanya 7 cm, ketika kita menggenggam senter, maka kita menggenggam keseluruhan senter. Gue belom pernah coba Ti3, tapi sungguh tidak nyaman menggenggam senter dalam waktu lama jika seukuran itu.



Jadi, buat Gue Nitecore MT-06 ini lebih worth to buy daripada ThruniteTi 3, secara spesifikasi, harga, dan kenyamanan, kecuali kalian butuh ukuran yang kecil, maka pilih Ti3. Sekian review awam tentang senter dari Gue, sampai jumpa di review lainnya.

Oiya, kemarin di daerah rumah Gue mati listrik dari sore sampe jam 11 malem, sekalian aja coba hasil cahaya dari senter ini. Semua foto diambil dalam keadaan gak ada cahaya lampu dalam radius 500 meter.

 Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 1000, shutter speed 1/9; Low mode
Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 640, shutter speed 1/2; High mode

 Taken with Microsoft Lumia 535, night mode, ISO 1000, shutter speed 1/9; Low mode
Taken with Microsoft Lumia 535, night mode, ISO 640, shutter speed 1/2; High mode
 Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 1600, shutter speed 1/8; Low mode
 Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 1600, shutter speed 1/8; High mode
 Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 1600, shutter speed 1; Low mode
 Taken with Microsoft Lumia 535, auto mode, ISO 1600, shutter speed 1; High mode
 Taken with Asus Zenfone 2, low light mode; Low mode
Taken with Asus Zenfone 2, low light mode; High mode




Piss bro~









Lah iya lupa kan mau review Victorinox Tinker, malah ini duluan, yaudah lain waktu deh.

Comments

  1. itu senter bisa mencerahkan masa depan kagak?

    salam keren
    takdos
    travel comedy blogger
    http://www.whateverbackpacker.com/

    ReplyDelete

Post a Comment