Review Awam Gerber Dime

Oke, 2 tahun setelah edc pertama gue, akhirnya si Victorinox Tinker dibeliin temen, sebuah Gerber Dime.
Bahkan Victorinox Tinker gue belom gue review, sampe tusuk giginya sekarang hilang entah ke mana._.

Di hari gue menebus ini dengan 300k, temen gue main ke kosan membawa batu akik yang katanya seharga 250k. Well, dibanding menghabiskan 250k dengan membeli barang yang masa trennya tidak jelas, lebih baik dihabiskan dengan membeli Gerber Dime ini yang dilengkapi garansi seumur hidup.




Kenapa gue pilih Gerber Dime? Karena lagi pengen cari suasana baru selain Victorinox, dan, karena belum sanggup beli Leatherman Squirt, MUAHAHAHAHAHAHA.

Dengan ukuran sekecil ini (panjang saat terlipat sekitar 7 cm), tentu saja gabisa dibandingin dengan Victorinox Tinker gue. Gerber, buat gue seperti entry level untuk masuk ke edc, karena harganya cukup terjangkau untuk mahasiswa, selain beberapa seri Victorinox yang murah.
Gue nebus si Tinker cuma 140k._.
Oiya, gue lebih suka menggantungkan Gerber Dime ini di bagian pembuka botolnya dibanding di keyring aslinya, karena menurut gue bentuk pembuka botolnya ini unik, biasanya multitool lain bentuk pembuka botolnya cuma plat besi biasa, tapi ini full gitu.



Gue beli yang warna merah-hitam, karena yang hitam habis ._. anyway, bagian yang berwarna hitam teksturnya matte, ga licin, cuma permukannya terlalu kecil, yang warna merah, teksturnya kayak alumunium finish di laptop gitu, tapi ya warna merah, dan ga licin juga. Sejauh ini nyaman digenggam, mengingat Tinker gue itu permukaannya licin.

Lanjut dari kesukaan gue, pisau.



Dia punya 2 macam pisau, pisau pembuka kemasan yang bentuknya aneh tapi sangat membantu gue membuka aqua gelas, dan pisau biasa dengan ujung yang tidak terlalu intimidatif (blunt point) seperti pisau di Tinker gue. Menurut gue baja yang digunakan tidak sebaik pisau Tinker gue, karena terasa ga padat saat megang pisaunya, dan menurut gue masih perlu diasah lagi.



Next, ada 2 macam obeng min, ukuran medium dan kecil, di mana yang kecil gabung sama kikir kuku.


Biasa aja, dan, lagi-lagi menurut gue baja yang digunakan tidak sebaik obeng min di Tinker gue. Oh ada yang bikin kesel, gue belom coba minyakin engselnya, tapi ini baru, dan untuk ngebuka 2 alat itu lumayan susah, nantinya coba gue minyakin engselnya.



Berikutnya gunting.


Gue suka guntingnya. terlepas dari kualitas bajanya yang gitu deh. cukup tajam buat sekedar gunting kertas, solatip, dan kawannya. Per gunting yang dipake gatau sih ini modelnya gimana, semacam per yang ada di gunting buat kerajinan tangan, bukan kayak per di jepitan rambut gitu.



Dan paling ngeselin, pinset.


Gue sangat tidak suka dengan pinsetnya. Susah ngeluarinnya, ujungnya yang aneh, tidak membal/mantul/apapun itu, dan liat tuh, cuma 2 plat besi yang ditempel tanpa ada tambahan apa-apa, eewww. Beda sama pinset di Tinker gue.



Terakhir banget, fungsi utamanya, tang.



Tidak seperti obengnya, membuka tang ini sangatlah mudah, tanpa ada kesulitan berarti. Terlepas dari kualitas bajanya, tampilan material dan finishing membuat tangnya tampak solid.

Bisa diliat, per yang dipakai mirip kayak per di jepitan rambut, tentunya dengan kualitas yang jauh lebih baik.


Don't you fuckin' see the detail?
Overall, cukup puas dengan 300k yang gue habiskan untuk ini, dibanding buat batu akik.

FYI, semua gambar di postingan ini diambil dengan kamera hp gue, Microsoft Lumia 535, lalu diedit dengan auto fix bawaan hp. Not a fuckin' iPhone.





Piss bro~

Comments